Pendiri Blackwater, Erik Prince, menempatkan dirinya sebagai sosok yang menjalankan Perang Salib dan melenyapkan umat Muslim dari dunia.
Tentara bayaran yang tergabung dalam Blackwater kerap menebar maut di Irak. Walau keberadaannya dipenuhi skandal dan noda, pemerintah AS tetap berkukuh mempekerjakan perusahaan “jasa keamanan” swasta ini
Hari itu, tahun 2007, menjadi hari kelabu bagi Abu Suhad. Warga Baghdad ini kehilangan anak gadisnya tercinta. Saat itu putrinya tengah mengemudikan kendaraan dekat kantor kementerian luar negeri Irak di pusat kota. Tiba-tiba mobil yang ditumpangi sang gadis ditembaki secara brutal oleh anggota Blackwater yang tengah patroli.
Saksi mata menyebutkan empat mobil Blackwater warna putih melewatinya. “Saat menyalip, mereka langsung menembak kepala anak saya dalam jarak dekat yang membuatnya tewas seketika. Peluru itu menerjang bagian bawah telinga dan sebelah kiri atas kepalanya. Kulit kepala dan rambutnya masih menempel di atap kendaraan,'' tutur Suhad sebagimana dilansir Time.
Warga Baghdad lain yang membeberkan kebrutalan Blackwater di Irak adalah Sajjad. Suaminya yang bekerja sebagai tenaga keamanan di jaringan media pemerintah Irak juga ditembaki secara membabi-buta oleh anggota Blackwater saat konvoi di pinggiran kota.
Tiap melakukan konvoi atau patroli, Blackwater tidak pernah berhenti atau menanyakan apa yang terjadi pada warga. Langsung memberondong orang dengan tembakan.
''Tidak ada baku tembak atau alasan lain yang mendorong mereka untuk menembak suami saya dan temannya. Mereka berada di bangunan tinggi, dan mereka tidak bersenjata,'' ungkap Sajjad.
Aksi-aksi koboi urakan di atas adalah secuil contoh kekejian Blackwater yang diumbar di Irak.
''Semua orang di sini tahu apa yang dilakukan Blackwater dalam menghabisi orang. Ini adalah simbol aksi pendudukan. Tak ada orang yang dapat melupakan aksi mereka. Namun orang Irak mungkin akan berpikir lain bila pelakunya dipenjara,'' kata Farid Walid, korban penembakan Blackwater di Nisour Square.
Warga Irak yang menjadi korban aksi kesewenang-wenangan Blackwater menuntut pemerintah AS mengadili “koboi-koboi” yang melakukan tindak kriminal di Negeri Seribu Satu Malam itu. Walid hanya satu dari sejumlah orang yang mencoba menyeret Blackwater ke meja hijau di AS.
Upaya itu mendapat dukungan dari pengacara AS, Susan Burke dan timnya. Bersama para keluarga korban, Susan dan timnya bergerak cepat. Hasilnya, akhir pekan lalu, pengadilan federal Virgina menerima pernyataan di bawah sumpah dua terdakwa mantan anggota Blackwater.
Kedua orang ini menyatakan pendiri Blackwater, Erik Prince, menempatkan dirinya sebagai sosok yang menjalankan Perang Salib dan melenyapkan umat Muslim dari dunia. Perusahaan itu juga dituduh dengan sengaja melakukan aksi pembunuhan dan mempersenjatai orang tak terlatih untuk menggunakan senjata mematikan.
Tuduhan lain yang juga muncul dalam kasus Blackwater ini adalah pelecehan seksual dan prostitusi anak di Irak.
Menurut laporan MSNBC, Blackwater menjalankan prostitusi anak di kamp Zona Hijau Irak. Anak-anak Irak yang terlibat dalam tindakan asusila dengan sejumlah anggota Blackwater diiming-imingi lembaran dolar.
Erik Prince mengetahui anak buahnya terlibat dalam skandal memalukan itu, namun tidak mencegahnya. Selain itu, Blackwater juga dituding terlibat dalam penyelundupan senjata dan pencucian uang. (Chairul Akhmad)
Sabtu, 22 Agustus 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar